Tampilkan postingan dengan label Coretan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Februari 2015

Antara Berjuang dan Diperjuangkan

Cinta merupakan sifat alami manusia, semua manusia pasti pernah merasakan yang namanya jatuh cinta, setiap orang pasti akan berusaha untuk mengerjar cinta orang yang dicintainya tak peduli sesulit apapun rintangan yang sedang dihadapi, terkadang sampai sampai melupakan keselamatan diri sendiri. karena semua orang pasti akan memperjuang kan cinta orang yang dicintai.
Aku sendiri pernah merasakan jatuh cinta kepada seseorang yang tidak ku kenal sama sekali, karena menurutku dia adalah cinta ku jadi aku harus memperjuangkanya, jadi hari demi hari aku mengumpulkan informasi tentang dirinya, tak sia sia waktu yang telah ku buang hanya untuk mengetahui nama dan apa saja yang dia suka. dan pada akirnya aku telah mengetahui banyak tentang dirinya. Tapi tak pernah sedikitpun aku mencoba memberanikan diri untuk berbicara dengan si dia, menatap matanya secara langsung, karena bagiku sudah cukup memandangi sinar bola mata nan terang dengan tatapan manis nan membuat dia seakan bak bidadari yang turun dari kayangan, walaupun itu hanya dapat ku lihat dari kejauhan saja.
Hari demi hari seakan membuat hati ku ini tak sanggup lagi tuk menahan gejolak cinta nah sangat dahsyat ini, karena hanya dia yang selalu terlintas dipikiran ku dikala aku untuk mencoba tuk melelapkan mata dalam tidur, selalu aku berpikir apakah dia takdir ku ataukah dia hanya mimpiku ? tapi tanpa perjuangan aku tidak akan pernah tahu jawaban nya. Jadi keesokan harinya aku mencoba untuk berbicara dengan dia, beruntung sekali pada hari itu aku dan dia berada dikelas yang sama, aku tidak akan menyianyiakan kesempatan ini. Terdengar suara bel yang menandakan bahwa pelajaran telah dimulai, dan suara langkah kaki dari sang pengajar yang mulai memasuki ruangan untuk memberi pelajaran, pelajaran pun berjalan dengan tenang, karna sang pengajar hanya menyuruh kami mencatat materi yang beliau berikan, tak terasa aku sudah mencatat hampir setengah dari semua materi tapi sialnya sepertinya pena yang ku gunakan bermasalah akhirnya aku memutuskan untuk berhenti menulis, aku terkaget kaget bukan kepalang saat melihat dia menoleh ke arahku dan memberikan senyuman manisnya sambil memegang sebuah pena dan memberikannya kepadaku, dia berkata “Cepat catat lagi materinya” tak sanggup aku mengeluarkan kata kata aku hanya membalasnya dengan senyuman dan langsung melakukan apa yang dia mau. tak terasa 45menit waktu berlalu dan sang pengajar pun mengakhiri pelajarannya. saat keluar ruangan aku langsung mengembalikan pena yang dia pinjamkan kepadaku, “Terima Kasih atas penanya” ucapku, dengan senyum manisnya dia pun berkata “Sama - sama senang telah bisa membantu” tanpa pikir panjang menurutku inilah saatnya untuk bisa lebih dekat mengenal dia, Jadi ku beranikan untuk bertanya namanya walaupun sebenarnya aku sudah tahu namanya “Bolehkah aku mengetahui nama mu ?” “yaa, namaku Arine” ucapnya dengan halus, “dan aku Dika, salam kenal” balasku.
Sepulang Kuliah, kulihat dia didepan kampus sepertinya ada yang bermasalah dengan motornya, kutanyakan pada dia apa yang terjadi,
“Apa yang terjadi dengan motornya, rine”
“Sepertinya mogok dik”
“Hari telah mulai gelap, bagaimana kalau barengan aku saja pulang” tawarku
“Apakah tidak memberatkan mu?” jawabnya
“Tentu saja tidak, sepertinya ini cukup untuk membalas jasa pena yang kau pinjamkan tadi”
“baiklah kalau begitu, tolong bantuannya ya dik” dengan senyum dia pun langsung menaiki motor ku.
diperjalanan kami tidak begitu banyak berbicara tapi ini adalah moment terbaik dalam hidup ku selama ini, sesampainya didepan rumahnya dia hanya mengucapkan terima kasih, dan langsung membuka pintu pagar, aku pun bergegas pulang.
Karena peristiwa itu hari demi hari aku semakin dekat dengan Arine, kami sering jalan berdua, makan bareng, dan pergi kuliah bareng. akhirnya perjuangan ku selama ini berbuahkan hasil, walaupun aku masih belum bisa mendapatkan cintanya, tiba pada hari itu pada saat hari ulang tahunnya aku telah menyiapkan sebuah hadiah yang sangat dia idam idam selama ini, hadiah itu berupa kalung liontin yang berhiaskan permata, sangat sulit perjuangan ku untuk menyiapkan hadiah ini, itu dikarenakan harganya yang sangat mahal jadi aku harus mengumpulkan uang dari hasil kerja paruh waktuku sedikit demi sedikit, sampai akhirnya aku bisa membelinya. Pada malam itu tepat pukul 8, aku mengajak Arine untuk makan malam, Seperti biasa kami mengobrol ringan tentang kejadian kejadian dikampus hari ini dan sedikit kami bercanda gurau, tak terasa malam semakin larut dan kami memutuskan untuk pulang, sebelum pulang aku memberikan hadiah yang telah kusiapkan, Arine pun terkejut dan Bergelimang air mata entah senang atau terharu setelah mengetahui isi dari hadiah yang kuberikan adalah liontin yang selama ini dia inginkan, dan diwaktu bersamaan pula aku langsung mengungkapkan isi hatiku.
“Arine, Aku merasa sepertinya kita cocok, anggap saja liontin itu sebagai tanda cintaku, Jadi maukah kamu mebalas cintaku dengan senyum manismu ?”
Mungkin dia terkejut atau apa akupun tidak tahu, ekspresi arine pun menjadi seperti kebengunggan, gemetar seluruh badan ku menunggu senyum manis dari arine sebagai tanda cintanya, tapi rasa itu langsung lenyap dan sirna setelah arine berkata
“Maaf dik, aku tidak berpikir untuk berpacaran dulu, aku ingin fokus dengan study ku jadi aku mohon maaf dik”
“tidak apa, setidaknya mulai dari sekarang aku harus menunggu sampai study mu selesai” sahutku, dengan wajah kecewa
“Tidak dik, sepertinya kau tidak harus menungguku, karena masih banyak wanita diluar sana lebih baik dari aku” balas Arine
“Jika kau beri aku kepastian untuk menunggu aku akan menunggu”
“Maaf , Sepertinya aku tidak bisa”
Pupus sudah harapan ku untuk mendapatkan senyum manis sebagai tanda cinta dari dia. “Simpan saja liontin itu, mungkin sebagai tanda pertemanan kita” ucapku. Sejak hari itu kami jadi sering berkomunikasi dan jarang saling tegur sapa.
Sekitar 1 bulan waktu berlalu, tanpa kusadari bahwa dibelakang perjuanganku untuk mendapatkan balasan cinta dari Arine, ternyata ada seorang perempuan yang selalu memperhatikanku selama ini dia adalah teman lamaku, dan kepada dialah aku sering meminta pendapat bagaimana cara untuk mendapatkan cinta Arine. Tanpa kusadari pula mungkin hanya teman lama ku ini yang sangat sangat tahu diriku, bagaimana sifatku, dan apa saja keburukanku. mungkin hanya dialah perempuan yang sangat sangat mencintai diriku selama ini.
Beberapa hari setelah menyadari akan rasa itu, akupun bertanya kepada teman lamaku itu apakah dia mencintaiku ? dan Apakah dia ingin bersamaku ? dan Apakah kita berdua cocok ? dan tentu saja dia menjawab semua pertanyaan ku dengan kata “IYA”
karena aku tidak mau menyianyiakan rasa cintanya ini, tanpa pikir panjang kuberi 1 pertanyaan terakhir, “Apakah kau mau jadi pacarku, dan membalas cintaku dan tak harus membuatku untuk menunggu?” diapun langsung menjawab “Iya, aku mau kamu, mau cintamu, mau kehangatan senyummu. Aku mau selamanya bersamamu.” Kami pun berjanji tidak akan mengkhianati satu sama lain dan percaya rasa cinta kami selamanya akan ada.

Dan aku berpikir bahwa, “tidak selamanya apa yang kita perjuangkan itulah yang terbaik untuk kita karena kita akan mendapatkan yang terbaik dari orang yang telah berjuang demi kita” dan “belajarlah untuk menghargai dan menghormati perjuangan seseorang, karena yang namanya perjuangan tidak ada yang mudah”
Sekarang aku bahagia bisa bersama dengan seseorang yang telah memperjuangkan ku, dan tugas ku selanjutnya sangat sederhana, “Memperjuangkan Orang yang telah Memperjuangkanku”



THANK,
FOR YOUR TIME
COME and READ MORE !!
Writting By : Fajar Adhiguna

Selasa, 10 Februari 2015

Problematika Cinta Anak STM

Pernahah kalian berpikir betapa sulitnya menemukan cinta dilingkungan yang penuh dengan laki laki. Seperti namanya STM (Sekolah Tekhnik Mesin) sudah pasti hampir 90% pelajarnya adalah laki laki dan hanya 10% perempuannya, bahkan dari 10% tersebut mungkin hanya 4% perempuan yang bersifat lebih feminim dan 6% nya adalah perempuan yang agak sedikit laki (Tomboy) .

Bisakah kalian bayangkan betapa sulitnya Anak STM mencari cinta, dapat diibaratkan bagai mencari jarum ditumpukan jerami, mungkin hanya sedikit orang yang beruntung saja yang bisa menemukan jarum tersebut. 

Sedikit cerita tentang kehidupan di STM, mari kita kesampingkan dulu masalah percintaan, Karena sekolah teknik otomatis setiap siswanya diwajibkan harus bisa dan terbiasa berhadapan dengan mesin mesin, alat alat mekanik, dan peralatan peralatan sefety ( pengaman diri ) mungkin karena pelajaran di stm selalu berkaitan dengan Fisik, jadi pelajar stm selalu dipandang sebagai pelajar yang berprilaku keras, tidak sopan, tidak disiplin, suka membangkang, dan suka berkelahi. Padahal kenyataanya malah sebaliknya, karna anak stm selalu berhadapan dengan mesin jadi kami diharuskan bekerja dengan hati hati ( teliti ), anak stm selalu ditekankan untuk datang tepat waktu (disiplin), didalam dingkungan sekolah anak stm harus berpakaian rapi dan tidak boleh memiliki mode/ style rambut yang tidak senonoh ( sopan ), jika salah satu pelajar stm ada yang membuat kesalahan maka pelajar tersebut harus menerima hukuman yang diberikan (tidak membangkang), dan yang terakhir sebenarnya anak stm itu tidak pernah membuat onar/perkelahian, jika pun ada mungkin mereka hanya membela diri dan membela nama baik sekolah (tidak suka berkelahi).

Disamping semua itu kita kembali lagi ke urusan cinta anak STM, karna hanya sedikit terdapat pelajar wanita di stm jadi kami diharuskan mencari pasangan dari sekolah lain, tapi menurut saya itu akan menambah problem kami, karena kami anak stm tidak begitu unggul dalam urusan fashion berpakaian untuk menarik hati pelajar wanita dari sekolah lain, berbanding terbalik jika dibandingkan dengan para pelajar lelaki dari SMA mereka selalu bisa memilih fashion penampilan mereka karna disekolah SMA tidak diharuskan untuk Bergulat dengan Mesin seperti halnya di STM. Maka dari itu sepertinya kami harus memutar otak agar dapat menarik hati perempuan dari sekolah lain mungkin ini akan sulit karena yang kami miliki hanya Fisik, dapat kah kami mengandalkan Fisik ??
Mungkin tidaklah cukup jika hanya bermodalkan Fisik, karena fisik tidak selamanya menarik, jadi kami setidaknya harus mendalami dan mempelajari bagaimana itu cinta dan kesetiaan, mungkin itu akan menjadi modal kami untuk merebut hati perempuan sekolah lain, karna jika kami memiliki Fisik, Cinta dan Kesetiaan itu sangat lah sempurna jika dibandingkan dengan Pelajar SMA yang memiliki Fashion, Harta, dan Cinta. tapi tidaklah mudah kami mempelajari cinta karna kami hidup dilingkungan yang keras. Tetapi kami tetap berusaha keras agar kami bisa mempelajari Cinta dan Kesetiaan.
Jadi tidaklah mudah bagi anak STM untuk mendapatkan cinta sejatinya, cinta yang selalu di impikan, cinta yang sangat sulit tuk didapatkan, cinta yang selalu bersamanya. jadi jikalau anda pernah dekat atau sedang dekat dengan anak STM maka anda harus belajar menghargai usaha mereka, jangan sia siakan perjuangan mereka karna

“Jika anda tidak pernah menghargai seseorang maka anda akan menyesal dikemudian hari”

Mungkin suatu hari nanti anda lah orang yang berada disamping mereka saat mereka mendapatkan kesuseksesannya.




THANK
FOR YOUR TIME
COME and READ MORE !!
Writting By : Fajar Adhiguna

Senin, 09 Februari 2015

Misteri Bis dan Seorang Perempuan

Ku langkahkan kaki dengan cepat. Segera kutuju halte bis yang terletak di perempatan jalan. Gerimis rintik-rintik yang semakin besar membuatku segera mempercepat langkah. Jalanan kini telah sepi lagang, tidak ada satupun kendaraan lewat. Entahlah apa yang terjadi. Mungkin karena malam yang semakin larut disertai hujan deras. Ku lihat jam yang melingkar di tangan, sudah jam 23.50. Sepuluh menit kemudian, tepat pukul 00.00, sebuah Bis berhenti di depanku. Tanpa rasa curiga, aku segera naik ke dalam bis, karena malam semakin larut dan dingin yang tak tertahankan. Aku ingin segera sampai kos, dan buru-buru istirahat, apalagi besok pagi aku ada jadwal kuliah pagi. Ah, ini baru pertama kalinya aku harus lembur sampai selarut ini.
Ku lihat di dalam bis, tak ada seorang pun. Semua tempat duduk kosong. Eh, tapi, tunggu dulu.. Aku menyipitkan mata, agar bisa jelas melihat dengan jelas. Di bangku pojok paling belakang, ada seorang perempuan dengan kepala tertunduk. Tapi aku tidak merasakan hal aneh, mungkin perempuan itu sedang tidur karena kecapekan. Ku putuskan segera duduk di bangku tengah dan menyandarkan kepalaku ke jendela bis. Tiba-tiba aku merasakan dingin yang sangat, bulu kuduk berdiri. Lampu dalam bis itu mati. Dan.. Wushhh. Aku terperanjat. Apa itu yang barusan lewat? Ku alihkan pandangan ke bangku belakang, ingin melihat perempuan yang tadi duduk dengan menunduk. Namun nihil, aku tak bisa melihatnya. Di luar bis pun terlihat sangat gelap sekali.
Beberapa menit kemudan lampu kembali menyala, dan bis berhenti. “Mbak, sudah sampai.” Kata supir dengan nada dingin. Aku terhenyak, dari mana supir ini tahu kalau aku berhenti disini, seingatku aku tidak bilang apapun tadi. Tapi, aku turun saja. Aku kasihkan uang dua lembar lima ribuan. Supir itu menerimanya tanpa menoleh sedikitpun. Aku tidak bisa melihatnya karena dia memakai topi, ditambah lagi kepalanya menunduk. Kutolehkan kepalaku ke belakang. Ingin melihat perempuan yang tadi. Namun tidak ada. Sudahlah, aku turun saja, walaupun dalam pikiranku ada beribu-ribu pertanyaan yang membingungkanku.
Sesudah aku turun, dengan iseng aku lihat ke belakang. Kemana bis itu, kenapa tiba-tiba tidak ada. Masak iya bis itu melaju kencang. Tapi kalau pun bisnya melaju kencang, setidaknya masih terlihat jelas, karena jalan raya di depan kosku lurus, tak ada belokan. Aku pun segera masuk ke kos dengan berlari. Bukk. “Aduhh.” “Neng Dina, kenapa neng lari-lari, kaya ketakutan gitu..” Ah, sukurlah, itu Mang Asep. Penjaga kos disini. “Tidak apa-apa kok mang. Ya sudah, aku masuk dulu ya mang.” “Iya neng.”

Huh, dasar si bos, masak aku harus lembur lagi. Lagi-lagi aku pulang seperti kemarin. Namun kali ini tidak ada hujan deras. Di jalan pun masih ada kendaraan walau jarang. Tepat pukul 00.00, Bis itu datang lagi. Sebenarnya aku tidak mau naik bis ini lagi, takut kejadian kemarin terulang lagi. Tapi apa daya, malam sudah sangat larut. Aku hanya bisa pasrah. Lagi-lagi lampunya mati, dan ketakutanku terjadi. Wusshh. Aku hanya menutup mata, dan bus itu berhenti. Aku segera turun, dan berlari menuju kos. Segera kurebahkan badan yang sangat lelah ini di kasur kamarku. Baru saja terlelap dalam nikmatnya tidur, tiba-tiba terdengar suara perempuan menangis di ruang bawah. Seketika juga aku penasaran sekaligus merinding. Jantungku berdegup lebih kencang. Suara siapa itu. Kenapa menggangguku di tengah malam ini. Kulihat jam di dinding kamar. Jam 01.00. Apa aku harus mengeceknya ke ruang bawah itu? Tapi, mang Asep melarangku membuka ruang bawah. Sebenarnya apa yang terjadi.
Ku ketuk pintu Lisa di sebelah kamarku. Karena tak ada jawaban, langsung saja membuka pintunya. Ku bangunkan Lisa yang tertidur pulas dengan menggoncangkan tubuhnya. Lisa bangun dan mengucek-ngucek matanya. “Ada apa sih Din, ngantuk tau!” “Lis, kamu denger suara cewek nangis gak?” Lisa pun terdiam dan menajamkan kupingnya. “Ah, kamu itu berhalusinasi aja.. gak ada gitu.. udah ah, aku mau tidur. Ngantuk!” “Lis, aku tidur disini ya.” Lisa hanya menarik selimutnya dan meneruskan tidur. Aku ikut berbaring di sebelah Lisa. Suara tangisan itu terdengar lagi. Tapi aku tak mempedulikannya. Lebih baik aku pejamkan mata saja.

Ini adalah hari ke tujuh aku disuruh lembur lagi sama si bos. Sebenarnya aku enggan, tapi karena kepepet, akhirnya aku iya kan saja. Setelah pulang, aku telepon Lisa. Ku suruh dia menjemputkku. Aku tak mau lagi naik bis aneh itu. Bagiku itu adalah hal misteri yang benar-benar membuatku bisa-bisa mati berdiri. Segera ku telepon Lisa. Tak diangkat. Kucoba beberapa kali. Ah.. kenapa dia tak mengangkatnya, padahal tadi dia berjanji mau menjemputku pulang. Ku telepon Riri, teman se kos juga. Tidak aktif. Kenapa dengan orang-orang ini. Bis itu berhenti lagi di depanku. Apa yang harus kuperbuat? Aku sangat bingung. Tiba-tiba pintu bis terbuka. Di balik pintu itu ada seorang perempuan cantik dan tersenyum padaku. Ia melambaikan tangannya, menyuruhku agar segera masuk. Dan entah kenapa, aku menuruti perintah dia. Aku pun segera naik. Dia duduk di sebelahku. Namun tak lama kemudian, aku merasa hawa sekitar sangat dingin, sampai menusuk tulang. Bulu kudukku ikut berdiri. Merinding. Perempuan di sebelahku tiba-tiba menangis pilu. Aku teringat dengan kejadian aneh di kos, karena suaranya sama persis. Aku menoleh dengan perlahan untuk memastikan apakah perempuan ini benar-benar orang, atau… HAH.. aku terlonjak kaget saat dia melihatku tajam. Dia menangis darah, wajahnya sangat pucat. Aku berlari menuju supir, dan meminta untuk berhenti. Tapi anehnya, supir itu seperti tidak mendengar suaraku. Padahal aku sudah berteriak minta berhenti. Ku goncangkan tubuhnya. Lagi-lagi aku terlonjak kaget saat supir itu menoleh ke arahku. Wajahnya sudah rusak dan agak hitam legam. Matanya berlubang satu. Aku dengan sigap lari menuju pintu bis, untunglah pintunya tidak tertutup, aku meloncat. Tubuhku terguling-guling di atas aspal. Tapi aku tak peduli, aku segera bangkit dan berlari. Tiiiit… tiiiiiit… Ckiiiit.. HAH.. Aku berdiri ketakutan di depan sepeda motor yang hampir saja menabrakku. “Dinaa.. kamu kenapa..” Kulihat orang yang menyebut namaku. Ternyata dia adalah Rizki, teman kuliahku. Aku langsung berhambur padanya, dan duduk di belakang Rizki dengan badan gemetar. Rizki masih terheran-heran melihatku. “To.. tolong an..ta..r.. ak.. u.. pu…lang.” kataku dengan gugup dan nafas yang masih tersengal. Tanpa bertanya lebih lanjut, Rizki mulai menjalankan maticnya.
Setelah sampai kos, Rizki mengantarku ke kamar dan membuatkan aku teh hangat. “Minum dulu biar tenang.” Aku pun segera meminumnya. Dalam hitungan detik, teh itu langsung habis. “Sebenarnya apa yang terjadi Din, kenapa tadi kamu tiba-tiba ada di tengah jalan, tengah malam lagi.” Aku masih terdiam. “Tangan kamu juga kenapa, kok berdarah gini. Kamu jatuh?” Aku menggeleng cepat. “Trus kenapa?” “Rizki, emm…” “Iya?” “Akuu.. takuut.” “Takut kenapa? Ada yang nyakitin kamu?” Aku menggeleng lagi. “Kenapa? Cerita aja. Kita kan udah deket. Ya kalau kamu gak cerita sekarang juga gak apa-apa sih. Besok kamu bisa cerita di kampus.” “Tapi, kamu habis dari mana ki, kok tengah malam gini kelayapan?” “Hahaha.. Dinaa Dina, aku gak kelayapan, tadi habis nganter si Tyo pulang, biasalah, maen di rumahku. Eh ya, aku balik dulu ya. Udah jam berapa ni, gak enak diliat tetangga. Kamu gak apa-apa kan sendiri.” “Iya gak apa-apa. Makasih ya udah mau anter pulang. Lagian udah ada Lisa sama Riri kok.” “iya udah deh.. sukur kalo ada temennya. Aku pulang dulu ya, sampe ketemu di kampus. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumus salam.” Rizki meninggalkanku. Aku segera beranjak ke kamar sebelah. Menemui Lisa. Ku buka pintunya tanpa kuketuk. Namun, tiba-tiba bau amis meggelitik hidungku. Aaaaaaaaa.
Ada yang memegang bahuku. Ku tepis tangan itu, “Din, ada apa, kenapa kamu teriak?” “Rizki, ka.. kamu belum pulang.” “Tadi aku denger kamu teriak, makannya aku balik.” Aku menunjuk telunjukku ke dalam kamar Lisa. Ku lihat wajah Rizki menjadi pucat. “A.. ku telepon polisi. Ka .. kamu tenang ya Din.” Aku hanya bisa menangis pasrah. Tiba-tiba ku teringat Riri. Dimana dia.. aku segera ke kamarnya. Ku buka pintunya. Kulihat Riri sedang tidur pulas. Segera ku goncangkan tubuhnya. “Riii, bangun Ri.. Ririii.. Banguunn.” Ia menggeliat. “ada apa sih?” Tanyanya. Setelah ku menceritakan tentang Lisa, ia terlonjak kaget dan segera berlari ke kamar Lisa. Riri memelukku dan menangis sambil berteriak memanggil Lisa. Tak lama kemudian, polisi dan pihak rumah sakit datang. Mereka segera mengurus kejadian itu. Aku, Rizki dan Riri ikut mereka.
Aku masih terdiam di depan makamnya Lisa. Rizki mencoba menghiburku. Sedangkan Riri, kata mang Asep, pulang ke rumahnya sendiri di Jakarta. Mungkin dia masih shock melihat keadaan Lisa yang terbunuh. Hal ini lah yang membuatku penasaran. Siapa yang tega membunuh temanku. Rizki mengajakku pulang. Kutinggalkan Lisa sendirian di dalam tanah yang menggunduk. Ketika di gerbang, entah ada kekuatan apa tiba-tiba aku ingin menolehkan pandanganku ke dalam makam. Kulihat disana ada Lisa sedang duduk dan tersenyum padaku. Kubalaskan senyumku padanya. Dia pun menghilang. Aku segera pulang diantar Rizki.
Di kos hari ini sangat sepi. Tidak ada lagi suara tawa keras Lisa dan sikap konyol Riri. Segera kuhubungi Riri. Ku ingin bertanya padanya, kapan dia mau balik ke kos. Tidak aktif. Hingga malam itu… Terdengar lagi suara tangis. Ah, cukup! Aku sudah bosan dengan suara tangisan itu. Ku beranikan diri untuk melihat ke ruang bawah, dekat gudang. Meskipun agak merinding, tapi apa boleh buat. Ku buka pintu perlahan-lahan. Tidak dikunci. Kulihat ruangan itu. Bau busuk menyeruak di hidungku. Ya ampun! Perempuan itu, yang ada di bis kemarin. Perempuan itu menoleh padaku. Rasa dingin menyelimutiku, tentu saja dengan bulu kuduk yang berdiri. Glekk. Dengan susah aku menelan ludah. Pahit. Perempuan itu mendekat kepadaku. Aku hanya bisa diam, rasanya kaki ini berat untuk melangkah. Kututup wajahku dengan kedua tanganku. Tok tok tok.. Sepertinya ada suara ketukan pintu. Kuturunkan tanganku dan kubuka mataku dengan perlahan-lahan. Perempuan itu sudah tidak ada. Kemudian terdengar suara lirih. “Kamu harus pergi dari sini. Orang itu menuju kesini.” Aku tak mengerti apa maksudnya. Siapa orang itu? Siapa yang mau datang kesini? Tok tok tok.. Terdengar lagi suara ketukan pintu.
Aku segera menuju ke depan. Kubuka pintu. “maaf neng Dina, ada yang ketinggalan.” “Oh, mang Asep. Ketinggalan? Apanya yang ketinggalan?” “Kunci neng. Deket ruang bawah. Bisa tolong diambilin gak?” “Oh ya sudah.” Segera ku kembali ke tempat tadi. Tapi kemudian suara itu terdengar lagi, “Cepat pergi dari sini. Cepat pergi dari sini.” Tiba-tiba mang Asep datang menghampiriku dengan membawa pisau mengkilat di tangannya. Raut wajahnya telah berbeda. Agak menyeramkan dan seolah-olah dia benci melihatku. “Aku sudah bilang! Jangan pernah membuka ruang bawah. Kenapa kamu masih saja membukanya, hah!” Katanya sambil mengangkat tangannya yang sedang memegang pisau. “Ta.. tapi, aku penasaran mang. Ada suara tangisan.” Kataku sambil melangkah mundur karena ketakutan. Ia tidak menjawab, ayunan pisaunyalah yang menjawab pembicaraanku barusan. Aku segera membalikkan badan dan berlari menuju pintu depan, hendak keluar. Ah, sial. Terkunci. “Mau kemana kamu, hah!” Aku melihat ke belakang, dia tersenyum menakutkan. “Mang.. mang Asep kenapa mau membunuh saya? Apa jangan-jangan mang Asep juga yang telah membunuh Lisa?” “Hahaha.. Dasar bodoh. Tentu saja aku yang telah membunuh Lisa! Kamu kira perampok yang membunuhnya?” katanya dengan garang. “Kenapa mang Asep ngelakuin itu semua? Apa salahku, apa salah Lisa? Kenapa mang Asep tega?” “Ah! Sudah diam! Banyak omong kamu mah!” Mataku melihat ada payung di sebelah pintu. Segera ku ambil dan kupukulkan ke tangan dan kepalanya. Pisau yang dipegangnya terjatuh. “Kurang ajar!” Ini kesempatanku untuk lari, saat dia mengambil pisaunya di bawah kursi. Segera kututup dan mengunci pintu kamarku. Kenapa aku mencium bau aneh? Segera ku putarkan pandanganku melihat sekeliling kamar. Eh, tapi ternyata ini bukan kamarku, ini kamar Riri. Mataku melihat ada darah yang berceceran dari kasur sampai ke lemari. Ku buka pintu lemari. Hah! Ririiii… Aku terduduk dan tergolek lemas di lantai. Tubuh Riri terbujur kaku di dalam lemari dengan pisau yang menancap di perutnya. Tok tok tok.. “Heh, buka pintunya! Dina, cepat buka!” Aku segera bangkit dengan keadaan bingung. Kuraih handphone Riri yang tergeletak di meja. Kunyalakan dan segera kupencet nomor Rizki. “Assalamu’alaikum, halo?” “Ha.. Halo, Riz.. Rizki.. ini aku, Dina.” “Iya, ada apa Din..” “Tolong aku Ki. Aku takut, aku mau dibunuh.” “Apa? Sekarang kamu dimana?” “Aku di kos, di kamar Riri. Tolong aku ki.” “Oke oke, kamu tenang ya, aku segera kesitu sama polisi..” Brakk pintu terbuka. “Hahaha, mau lari kemana kamu Dina?” Sementara di seberang telepon, Rizki masih berbicara. “Halo.. Halo.. Din, Dina..”
Segera ku lempar buku-buku Riri ke arah mang Asep. Mang Asep kelimpungan. Dan tepat saat aku melempar penggaris patah, ujung penggaris itu menusuk matanya. Aaaaaarrrgghhh. Teriaknya. Segera aku berlari lewat jendela yang telah ku pecahkan. Kress.. Aduh, tanganku tergores pecahan kaca dan mengeluarkan darah segar. Aku tak menyangka, mang Asep masih kuat mengejarku. Aku berlari menuju pagar. Ah, ternyata pagarnya juga sudah dikunci. Ku obrak-obrak pagarnya, tiba-tiba aku merasakan ada tubuh yang menyatu dengan tubuhku. Aku merasa lebih kuat dari sebelumnya. Mataku merah menyala. Segera ku hampiri mang Asep dengan dendam. Ku raih kerah bajunya dan ku angkat tubuhnya, lalu kubanting. Mang Asep melemparkan pisaunya ke arahku, namun aku berhasil menghindar. Pisau itu tertancap di pohon dekat pagar.
Rizki dan 4 orang polisi datang. Dua orang polisi meringkus mang Asep, dua polisi dan Rizki menghampiriku.. “Din, kamu gak apa-apa kan? Aku khawatir banget… Din, kamu kenapa diam saja? Kenapa tanganmu dingin.” Aku menoleh ke arahnya tajam, sambil berkata dengan lantang, “Mang Asep dan temannya telah membunuhkuu. Mereka memperk*saku di bis saat tengah malam, setelah mereka puas, aku dibunuhnya dan dibawa ke ruang bawah di rumah ini. Teman mang Asep membunuh supir bis dan membakar bis itu, tapi untunglah, orang keji itu juga ikut terbakar. Sekarang kamu cek ke dalam dan lihatlah di ruang bawah itu!” Tiba-tiba aku merasa tubuh itu keluar dari tubuhku. Aku tergolek lemas. “Dina.” “Rizki, ayo kita ke dalam. Kuburkan mayat perempuan itu dan Riri.” Kataku dengan suara bergetar. “Apa? Bukannya Riri pulang ke Jakarta?” Aku menggeleng dan mengajaknya ke dalam. Setelah semua diperiksa dan diamankan, mayat-mayat itu dikubur secara layak. Besok aku berniat untuk pindah kos ke tempat yang lebih ramai dari sebelumnya.
Dalam dua hari, aku telah kehilangan dua teman terbaikku sekaligus. Pergi dan tak akan pernah kembali lagi. Setelah mendo’akan Lisa dan Riri, segera kulangkahkan kaki, ditemani Rizki. Ku lihat kembali ke belakang, Ada Lisa dan Riri tersenyum ke arahku. Semoga kalian tenang disana. Aku kan selalu mendo’akan kalian teman.




Cerpen Karangan: Rosa Lina
Facebook: di_cha3[-at-]hotmail.com
Sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-horor-hantu/misteri-bis-dan-seorang-perempuan.html

Minggu, 08 Februari 2015

About Me

Singkat Cerita, suatu hari pada tanggal 22 mei 1998 sekitar pukul 03.00 terjadi pertiwa bersejarah bagi seorang wanita cantik yang sedang berada disebuah ruangan di salah satu rumah sakit di kota Banjarmasin ( Kalimantan Selatan ) pada saat itu sang wanita berjuang keras untuk hidup dan mati demi melahirkan seorang lelaki kecil sangat ingin melihat indahnya warna warni dunia. Dengan berurai air mata, keringat yang membasahi seluruh tubuh, bercak bercak darah yang mengotori kasur rumah sakit dan lantunan do’a dan ayat ayat suci dibacakan oleh sang suami. Perjuangan sang wanita cantik itu berakhir tepat pada pukul 05.30 suara tangis kecil yang terdengar sontak membuat suasana diruangan menjadi penuh akan senyuman kebahagian yang diiringi dengan suara lantang sang suami mengumandangkan Adzan untuk sang lelaki kecilnya yang tak berdaya itu. Seusai sang suami mengumandangkan adzan, sang suami pun melihat keluar jendela rumah sakit dan melihat betapa perkasanya sang fajar telah terbit dari ufuk timur yang membuat seluruh alam semesta keluar dari gelapnya malam.

17 tahun telah berlalu sekarang lelaki kecil yang tak berdaya itu telah tumbuh dalam kehangatan kasih dan balutan sayang yang diberikan oleh orang tuanya, anak lelaki itu sekarang telah menjadi sang fajar nan perkasa yang membuat orang orang disekitarnya menjadi bersinar dan jauh dari kata ‘Gelap’


Mungkin dari carita diatas kalian akan sedikit lebih mudah mengenal saya,
ingat “tak kenal maka tak sayang”
Maka dari itu ijinkan sayang memperkenalkan diri, nama saya Muhammad Fajar Adhiguna, nama yang sangat bermakna yang telah diberikan oleh ayah saya, nama yang sangat bermakna dalam. saya akan menjelaskan sedikit makna dari nama saya 

Muhammad = Sang Khalifah dimuka bumi yang mengajak dan membimbing para umatnya agar terhindar dari Kegelapan dunia
Fajar = Terbitnya cahaya mentari dari ufuk timur yang membuat alam semesta terang
Adhi= Artinya Besar/Banyak
Guna= yang dimaksudkan adalah terpakai, berguna, bermanfaat

"jadi makna dari nama saya adalah Sang Pemimpin yang memberikan cahaya dan Berguna bagi bagi orang lain".

Jadi begitulah doa dari ayah saya yang ingin anak lelakinya berguna bagi orang lain, kini umur ku 17 tahun, saya adalah salah satu dari kurang lebih 3ooo murid di SMK NEGERI 5 Banjarmasin, berhubung sekolah saya adalah sekolah kejuruan teknik mesin jadi dari 3000 siswa mungkin hanya ada 500 wanita disekolah saya, maka dari itu saya sangat sulit mencari wanita di lingkungan sekolah saya.
Lanjut saya akan bercerita tentang hobi, sebenarnya kalo masalah hobi saya tidak mempunyai hobi yang rutin saya lakukuan setiap minggunya, tapi yang jelas saya suka menghabiskan waktu dangan cara Hang Out bareng teman teman, olahraga (walaupun jarang sekali), nonton film, main musik, dan menulis. film fav saya adalah film animasi jepang ONE PIECE dan film Sherlcok Holmes. kalo soal musik saya suka aliran musik akustik, country dan hip hop. lagu favorit saya Blink 182 - I Miss You, pink - Perfect (akustik versi) , Yui - Goodbye day, Andra and the backbone - Sempurna, Dewa 19 - Kangen, Dewa 19 - Pupus, dan yang terkhir Once - Aku mau.
Terakhir, saya akan bercerita sedikit tentang tujuan hidup saya kedepan, karna saya menyukai listik dan hal hal yang terang jadi saya memutuskan masuk ke SMK dengan mengambil jurusan lisrik menurut ku mungkin ini sudah jalan hidupku untuk menjadi seorang teknisi listrik, semoga saja kedepannya saya akan menjadi Teknisi Listrik yang penuh akan pengalaman, Teknisi paling terkemuka diindonesia, atau mungkin semoga saja saya bisa menggantikan Dahlan Iskan sebagai Direcktur PT. PLN (persero) ini tekad saya akan berjuang dengan sekuat tenaga agar dapat mencapai apa yang saya impikan, karna saya penah membaca kutipan dari sebuah film biografy seorang pengusaha sukses di thailand, bahwa

“Jangan Patah Semangat Walau Apapun Yang Terjadi.
Jika Kita Menyerah, Maka Habislah Sudah - TOP”

THANK,
FOR YOUR TIME
COME and READ MORE !!
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com